Kamis, 14 Juli 2011

Titip Rindu Buat Ayah


Ayah.... bertahun-tahun aku hidup bersamamu betapa baru hari ini aku menyadari
Merah matamu itu bukan karena marah
namun kekhawatiran akan anak gadisnya yang rapuh dan mudah menangis
Suaramu yang keras saat membentakku bukanlah kebencian
yang selama ini aku sangkakan
namun penjagaan yang kuat dari seorang laki-laki
pada gadis kecilnya yang pemberontak dan tak mau diam
Prinsipmu yang tak tergoyahkan ada lah harga diri laki-laki
untuk melindungi keluarganya dari mara bahaya

Ayah.....
kemarin aku melihatmu bangun dini hari
dan bergegas ke masjid
saat orang-orang terlelap
kau pun senyap dalam dzikir dan doa
tak perduli udara dingin menerpa kulitmu
yang menua oleh waktu

Ayah... dalam kesendirian aku merindukan
saat kau mengusap kepalaku dan mendoakan
untuk segala kesehatan dan kesembuhanku
dalam kesederhanaan
kau mengantarkan ku menuju harapan dan cita-cita

berjalanlah anakku
ada Ayah yang kan selalu mengiringi langkahmu
sejauh dan seberat apa pun
akan kutempuh
demi kebahagiaanmu



seminggu bersama Ayah
Blitar,

12-17 Juli 2011

Senin, 02 Mei 2011

"My sister's keeper."... bagaimana sakitnya kehilangan



Kemarin, saat pulang ke Blitar iseng-iseng aku menonton film My Sister's Keeper. Temenku, si "juragan" film, merekomendasikannya sebagai film yang exciting banget. Film ini sudah lama masuk di waiting list flash disk ku. Sampai akhirnya aku mengcopy nya di laptop dan menontonnya sendirian.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang menghadapi permasalahan kompleks. Cukup rumit malah. Anak perempuan pertamanya, Kate divonis dokter menderita leukimia. Dia tidak bisa bertahan hidup jika tidak ada orang yang bersedia mendonorkan organnya. Karena susah menemukan orang yang cocok, akhirnya sepasang suami istri itu dengan persetujuan dokter membuat bayi tabung sebagai "suku cadang" anak perempuannya.

Maka bayi perempuan yang lahir itu (anna) seumur hidup menjadi "suku cadang" kakaknya. Ia menyumbangkan sumsum tulang, darah, bahkan terakhir ginjal nya akan diambil. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia membangkang. Ia mengaku sudah lelah menjadi donor kakaknya. Ia ingin mimiliki tubuhnya seindiri, seutuhnya. Bahkan ia menyewa pengacara untuk menuntut ibunya yang memaksanya menjadi donor kakaknya.

Keluarga itu menjadi porak-poranda, tatkala tidak ada diantara mereka yang mau mengalah. Sang ayah mencoba menengahi dengan bijak, namun tetap saja istrinya menginginkan anna berkorban untuk kakaknya. Kate, hanya mampu memperhatikan apa yang terjadi pada keluarganya sambil terbaring di rumah sakit. Di situlah ia membuka kembali luka lama yang ia pendam, Termasuk, cintanya yang kandas karena ditinggalkan, Taylor, kekasihnya. Ia merasa bersalah telah mencuri seluruh perhatian keluarganya, terutama pada Jesse adik laki-lakinya yang menderita dysleksia.

Di tengah keputus asaan dan kebimbimangan keluarganya, sang ayah mengajak seluruh keluarganya ke pantai. Di sana mereka berusaha melupakan apamyang terjadi. Mereka bermain dengan ombak dan pasir pantai sepuasnya.

Ketika persidangan berlangsung, anna dan ibunya beradu mulut. sampai akhirnya rahasia anna terbongkar. Jesse memberi tahu bahwa anna memberontak karena Kate yang meminta. KAte ingin menyerah. Ia tak ingin menjadi beban keluarganya lagi. Semua yang hadir di persidangan, t sangat kaget mendengar hal ini. Apalagi ibunya, ia tidak menyangka anaknya melakukan itu demi dirinya. Akhirnya mereka ke rumah sakit, bertemu dengan Kate yang semakin lemah.

Akhirnya kate pun meninggal. Ia memang kalah dengan kematian. Namun, penderitaan dan kesedihan Kate membuat keluarganya lebih kuat. Sepeninggal Kate, keluarga itu menjadi lebih harmonis. Jesse pun lulus akademi mengambil jurusan seni. Ibunya kemabli berkarir dan lebih sukses, sementara ayahnya pensiun dini dan memberikan konseling pada remaja bermasalah.

Film ini sungguh membuat mataku berkaca-kaca. Tiap adegan di dalamnya terasa begitu intens dan memberikan sentuhan lembut di dalam hati. Dalam kehidupan ini, kehilangan seseorang yang dicintai adalah wajar adanya. Namun, merelakannya dengan sepenuh hati membutuhkan waktu yang sangat lama. Kadang, kita terlalu mencintai seseorang, dan tidak pernah menyadari jika suatu saat ia akan pergi.

Namun bungkankah rasa memiliki itu ada ketika kita merasa kehilangan? Saat kita kehilangan sesorang yang kita cintai, barulah kita menyadari betapa berharganya dia. Kebaikan-kebaikannya selama hidup membuat kita terinspirasi untuk bangkit dan memperbaiki kualits hidup. Ide dan cita-cita nya akan terus tumbuh menjelma dalam diri orang-orang yang ditinggalkannya.

Minggu, 01 Mei 2011

NII dan Paranoia

Akhir-akhir ini, kasus NII mulai marak diperbincangkan di Indonesia. Ada beberapa mahasiswa yang mengaku diculik oleh sekelompok orang yang mentahbiskan diri nya menjadi gerakan pendiri Negara Islam tersebut. Mereka di cuci otaknya, sehingga tidak mengenal lagi siapa dirinya, kerabatnya bahkan orang tuanya. Kasus ini makin marak, ketika aparat menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan anggota NII. Mereka merampok dan merampas harta orang lain dengan alasan demi membiayai tegaknya Negara Islam di Indonesia.

Jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya fenomena NII ini sudah lama terjadi di Indonesia. Pada sekitar tahun 90 an, banyak generasi muda utamanya mahasiswa yang terkena jaringan NII. mereka bahkan rela minta uang berjuta-juta pada orang tuanya meski pun dengan berbohong hanya demu membiayai gerakan ini. Mereka juga tidak segan-segan menganggap orang di luar kelompoknya kafir. Bahkan pemerintah Indonesia pun dianggap "tidak Islami', sehingga tidak perlu menaati peraturan di dalamnya. Mereka bergerak cukup militan dalam pengkaderan anggota-anggotanya. Sasarannya adalah anak muda yang masih labil dan dalam pencarian agamanya.

Meledaknya kasus ini, membuat banyak pihak seperti kebakaran jenggot. Hampir setiap hari masalah ini dikupas di berbagai stasiun televisi. Banyak pakar baik itu dari agamawan, budayawan, politikus dan kepolisian mencoba mengupas kasus ini dalam berbagai diskusi.
Berbagai komentar dari masyarakat banyak mengecam kasus ini sebagai penodaan agama dan NKRI.

Hal itu berimbas pada stigma masyarakat terhadap orang-orang yang memang bergerak masif untuk mensyiarkan Islam. Seorang pakar menyebutkan bahwa terorisme itu berakar dari rohis yang bergerak di kampus dan sekolah-sekolah. Mereka yang aktif di "dunia dakwah" dianggap membentuk gerakan separatis yang menyelishi NKRI. Ada klaim bahwa perempuan-perempuan yang berjilbab lebar dan laki-laki yang berjenggot semuanya berhubungan dengan NII. Bahkan di salah satu fakultas sebuah universitas ternama, menutup mushola kampus dan membukanya hanya pada waktu sholat saja.

Dalam hal ini, kewaspadaan pemerintah dan masyarakat memang diperlukan sebagai kontrol sosial. Namun adakah lebih baik nya kalau kita tidak "meng-gebyah uyah" setiap aktifs dakwah kampus adalah NII. Jika kewaspadaan itu menjadi kecurigaan yang tidak berdasar, maka masyarakat akan mengalami "paranoia". Mereka akan menggeneralisir setiap kegiatan keislaman dan melarang anak-anak mereka untuk ikut kajian karena dikaitkan dengan NII.

Sebagai civitas akademika yang mengedepankan logika, seharusnya kita bisa berfikir lebih jernih dalam menyikapi masalah ini. Efek yang diakibatkan kecurigaan yang berlebihan itu, tidak malah menyelesaikan masalah, namun lebih memperburuk keadaan. Bayangkan jika semua muslimah yang berjilbab rapi di klaim sebagai anggota NII, maka akan ada banyak perempuan di Indonesia yang takut untk menggunakan jibab. Padahal sebagai seorang muslimah, itu adalah hak prerogatf mereka untuk mengamalkan apa yang diyakininya. Begitu juga dengan orang-orang yang haus akan ilmu agama. Mereka akan urung mengikuti kajian karena kecurigaan yang tidak beralasan.

Bukankah seharusnya, mahasiswa, dosen, dan aparatur negara memberikan informasi yang faktual dan valid kepada masyarakat. Tidak asal tuduh, dan memberikan justifikasi yang belum jelas kebenarannya. Sebagai agen perbahan dan pengayom masyarakat, tidak kah lebih baik jika kita bersikap bijak dan profesional. Tidak mengedepankan sensitivitas pribadi, dan emosional dalam membuat kebjakan. Sehingga masyarakat bisa menjadi lebih tenang, dan tudak mengorbankan banyak pihak yang tidak terkait dengan masalah ini.

Kamis, 23 Desember 2010

Mengapa Aku Memanggilmu "Ibu"



Ibu. Satu kata, yang sangat istimewa. Betapa gadis-gadis dewasa sangat mendamba panggilan ini. Bukan dari orang lain. Bukan dari seorang murid kepada guru, seorang bawahan kepada atasan, atau seorang laki-laki pada rekan kerjanya di kantor. Namun sebuah kata yang terucap tulus dari seorang anak kepada wanita yang dengan susah payah melahirkannya.

Ketika seorang anak lahir ke dunia, tangannya yang mungil menyentuh pipi ibunya yang meneteskan air mata bahagia. Betapa, saat itu air susu menjadi ikatan darah yang tak pernah lekang ditelan waktu.

Ibu. lalu nama itu kupanggil dengan rasa haru. saat aku meneleponmu seusai subuh. dalam hati yang luruh karena apa yang kuberikan selama ini tak sebanding dengan air mata perjuanganmu.

" Selamat Hari Ibu." 

Bahkan kau pun tak hirau apakah itu hari Ibu, hari Bapak, hari anak....

yang kau risaukan apakah anak gadismu baik-baik saja. tercukupi kebutuhannya. berakhlak baik. berkepribadian tangguh. menjaga harga dirinya. menjaga nama baik keluarganya.

dan.... segera lulus skripsinya....

Ibu. Saat aku sakit pun, kau tahu dari sudut mataku, tanpa aku mengatakannya. Karena kata-kata hanyalah batas untuk mendefinisikan makna. Sementara hati kita terpaut dengan darah dan sumsum yang sama. lebih dari sekedar makna.

Ada  yang tidak terkatakan. dalam diam. atau dalam kesibukanmu menata bekalku untuk dibawa merantau. "Bawalah kue ini, jangan lupa abon sapi, gula putih, susu, madu. " Tanpa lelah kau mengingatkanku. " Apa uangmu masih ada? kurang atau tidak? " Selalu saja pertanyaan itu. betapa sangat menusuk hatiku. Aku yang belum juga lulus dan mandiri. Masih saja bergantung pada pemberian orang tua.

Ibu. Aku memangilmu Ibu, untuk kesekian kalinya dalam hidupku.

Bukan hanya karena aku lahir dari rahimmu. Atau kau yang menyusui aku, mengajariku berjalan. menyisir rambutku. memandikan aku. memeluk aku saat sakit. menghapus air mataku. memarahiku. memukulku.mengingatkanku.

namun bahasa cinta, antara dua orang perempuan yang dipertemukan dalam keluhuran ikatan.

bahasa Cinta yang diturunkan dengan penuh kasih oleh Nya. 

bahasa Cinta, melawan segala logika, definisi. lebih dari sekedar keindahan dan kekaguman.

bahasa Cinta menembus batas yang nyata, melalui panjangnya lorong-lorong waktu.

Malang, 24 Desember 2010.

" seuntai Cinta untuk Ibu





Senin, 20 Desember 2010

hatta



hatta, sejak kapan kau mengenal tanda?

menyebut nama-nama
mendefinisikan semesta dengan bahasa

Kata-kata menjabarkan kebenaran
yang diklaim sendiri kesahihannya.


hatta, ketika abjad lebur menjadi debu
dilumat Sang Waktu
lalu bagaimana kau bisa menjelaskan makna?


Barulah kau menyadari
YangTakTerdefinisi itulah
hakiki

hatta, tak perlu kau merangkai kata menjadi frasa
kalimat-kalimat yang sia-sia

cukup kau rasakan saja

hatta.



Sabtu, 30 Oktober 2010

Ada sajadah panjang terbentang...


Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

by: Bimbo


Hidup ini kan hanya menunggu mati.... lalu untuk apa kita terobsesi mengejar sesuatu yang fana
sesungguhnya segala yang tampak berkilauan ini hanyalah ilusi
Dia lah Yang Maha Abadi

Senin, 18 Oktober 2010

Jeda

Ketika nafsu menjadi sekeras batu
Kau biarkan aku melawan
diriku sendiri

Bukankah Perang Bharatayudha telah usai?

Kudamba kemenangan Pandawa dalam jiwa
namun dentang jam berkata lain

pergilah tidur sejenak
Ada mimpi suci yang
menunggu untuk
dikunjungi

Perang akan terus berlanjut
Selama kereta kuda masih
tersembunyi di balik senja

Jumat, 15 Oktober 2010

waktu.... berhentilah sejenak. ada selamat ulang tahun yang ingin terucap

Tidak ada yang istimewa di hari ulang tahunku kali ini
Tidak ada kue tart, tidak ada lilin, atau pun kado
Bahkan aku sendiri hampir lupa kalau hari ini, tanggal limabelas oktober, tepat dua puluh empat tahun yang lalu aku dilahirkan bersama terbitnya sang mentari di sebuah desa yang sunyi.

Tepat.. sampai hari ini, aku tetaplah seorang gadis yang terus mengejar mimpi. Dengan dopamin dan serotonin di otaknya yang tidak bisa berfungsi dengan baik.
Tepat... sampai detik ini, aku harus minum obat sehari dua kali dengan dosis zofredal 2 mg dan trihexipenidhil.
Tepat... sampai tulisan ini dibuat. aku masih belum tahu sampai kapan aku harus menjalani semua ini.

Jika waktu bergerak maju... mestinya ada yang bisa mengembalikan nya ke masa yang lalu. Hingga aku bisa memperbaiki semua kesalahanku. Jika aku bisa mengubah hidupku saat ini, tentu akan lebih indah bukan?

Tapi "Waktu" tidak mengijinkan dirinya untuk kembali ke masa lampau. Pun tak ingin memperlihatkan bagaimana masa depan ku nanti. Waktu hanya meminta hari ini, jam ini, dan detik ini. Waktu ingin menemaniku sekarang. tidak kemarin, lusa, atau besok pagi.

Harapan laksana seekor burung yang bercicit merdu, hinggap di sebatang pohon. Lalu terbang begitu saja. Tanpa kau sempat menangkapnya. Namun meski dia pergi, suara merdunya masih terasa bukan? Jika suatu saat nanti apa yang aku harapkan akan terbang seperti angin, dan berhamburan seperti bulu burung. Setidaknya aku masih bisa bernyanyi sambil melihat langit yang lebih tinggi.

Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Apakah aku tetap minum obat sehari dua kali. seumur hidupku. atau kah ada penemuan baru di bidang kedokteran untuk menyembuhkan semua ini. menyembuhkan luka, dan menaburkan bunga mawar di atasnya.

wahai waktu.... saat ini aku bersamamu. kumohon berhentilah sejenak. Ada selamat ulang tahun yang ingin terucap. Ada kebahagiaan yang menunggu untuk di sambut dengan senyuman. ada rasa rindu yang ingin dipeluk. Ada rasa hangat yang ingin terungkap.

wahai waktu... peganglah tanganku erat-erat. Ajaklah aku berlari bersamamu. melupakan masa lalu

Selasa, 28 September 2010

Tentang cinTa dan Tuhan yang Esa

Baru saja saya membaca tulisan di blog salah seorang penulis ternama di Indonesia. Isi tulisan tersebut membuat saya terinspirasi, tergelitik untuk menulis di blog saya sendiri. Untuk sedikit memberi sumbangsih wacana, merunut benang kusut yang terlanjur digulirkan bagai bola salju yang menghantam otak kita. Tentang CinTa dan Tuhan yang Esa.

Begitu banyak orang yang mempertanyakan tentang eksistensi Tuhan dan CinTa. Muncul pertanyaan-pertanyaan eksistensialis yang sering kita dengar. Apakah Tuhan itu Esa? Jika Tuhan itu Esa, mengapa dia menciptakan banyak cara dan agama? Lalu bagaimana dengan CinTa? Jika Tuhan yang menciptakan CinTa, mengapa kita tidak boleh menCinTa meskipun berbeda agama?

Bahkan ada pula yang berkelakar... pilih Tuhan atau cinta? pilih pacar atau agama?
atau tidak dua-duanya.

Sejenak, cobalah kita simpan dulu pertanyaan-pertanyaan yang begitu menyesak di otak kita. Bukan berarti kita mengabaikannya, atau pura-pura tidak tahu sekan-akan pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ada. Lalu cobalah kita luruskan pelan-pelan benang kusut yang menjejali simpul-simpul syaraf dan logika.

Jika boleh jujur dengan diri sendiri, sebenarnya tahukah kita apakah arti CinTa sebenarnya?

CinTa adalah sesuatu yang "universal" namun setiap orang berbeda dalam mendefinisikannya. karena CinTa berkaitan dengan hati, dan rasa.
Dalam bahasa Inggris, CinTa disebut "Love" yang artinya " strong liking or affection", sesuatu yang sangat disukai. Menurut seorang filsuf dari America, Alexander Smith, CinTa adalah menemukan diri sendiri di dalam diri orang lain dan merasa bahagia dengan penemuan itu.

Ada kesamaan yang kita temukan di dalam diri seseorang sehingga kita merasa menjadi bagian dari dirinya. Ada sebuah magnet yang menarik kita begitu kuat sehingga kita ingin mendekat pada kutub yang berlawanan.

Ibunu Qayyim Al Jauziyah, seorang ulama salaf terkemuka, dalam buku "Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, menuliskan ada beberapa motivasi yang membuat kita jatuh cinta pada seseorang. Bisa jadi karena elok rupanya, paras wajahnya, mulia keturunannya, atau berlimpah hartanya. Namun semua itu tidaklah kekal adanya. kecantikan akan pudar seiring waktu berjalan, harta yang berlimpah suatu saat akan habis jika tertimpa bencana, keturunan atau nasab yang dimuliakan orang bisa tercoreng karena aib yang disebarkan.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Alexander Smith, CinTa yang paling kokoh adalah CinTa yang didasarkan atas keserasian, kecocokan, kemiripan selera jiwa. Dalam sebuah bait syair disebutkan " Setiap diri akan mencintai orang yang serasi dengannya." (Al Jauziyah,2000"143)

Keserasian bukan hanya karena kesamaan hobi, cita-cita, ide, pemikiran bahkan visi dan misi dalam mengarungi kehidupan. Bukan pula kesamaan wajah atau pun karakter. Pada kenyataannya ada pasangan yang karakternya sangat bertolak belakang namun bisa tetap mempertahankan pernikahan sampai ajal menjemput. Sesungguhnya keserasian berasal dari kesamaan pada apa yang ia yakini benar. Keselarasan jiwa bersumber dari kesamaan akidah. MenCinTai dan membenci karena Allah.

Pernikahan sesungguhnya adalah sebuah bentuk ibadah. Ia bukanlah lembaga yang (hanya) mengikat dua orang untuk menyalurkan hasrat biologisnya. Di dalamnya ada tata aturan dan ritual sebagai bentuk ketaatan seorang hamba terhadap Rabb nya. Bahkan segala bentuk ketaatan kita pada suami adalah bukti rasa CinTa kita kepada Allah Swt.

Pertanyaan nya jika seseorang menikah beda agama dengan mengatasnamakan CinTa, lalu CinTa yang seperti apa? CinTa karena apa? dan CinTa untuk siapa?

Apakah "itu" benar-benar CinTa atau Hawa Nafsu semata?

Saya rasa kita tidak perlu meributkan tentang Ke-Esaan atau Ke -jamakan Tuhan lalu menjadikannya alibi untuk melegalkan "CinTa".
Akan lebih baik jika kita berusaha "tahu" mengalami, merasakan dan menghayati hakikat CinTa itu sendiri.

Waallhua'lam bissawab

Rabu, 15 September 2010

human mind is very subtle

Di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang bersifat kebetulan. Kebetulan hanyalah kata yang dibuat manusia untuk menyatakan kekaguman pada sesuatu yang telah terancang apik yang tidak pernah disadarinya. Hidup seperti menyusun puzzle pada mozaik. Dan rupanya sebuah puzzle kutemukan di dalm blog Arundati.

Jika alam adalah sebuah teka-teki, maka alam pulalah yang akan menentukan jawabannya. manusia hanya mencoba, mereka-reka. dari sains, antropologi, psikologi, bahkan sastra . dari satu sudut ke sudut lain. mengalihkan pandangan. paradigma. logika.

sesungguhnya pikiran manusia sangatlah sulit ditebak. ia dapat beralih, melompat, terbang dalam khayalan sebebas burung. tapi ia juga bisa mandeg tanpa bisa bergerak kemana-mana.

human mind is very subtle. hanyalah interpretasi. terkaan dari sebuah "pesan rahasia" dari blog arundati.

Ikan tak dapat bergerak dalam sungai yang membeku atau berenang dalam kabut pagi… Akar tak dapat menembus batu yang padat atau bertahan di pasir yang tertiup angin…


ada persamaan subjek antara ikan dan akar. aku melihat, sesungguhnya ikan dan akar melambangkan satu hal. "sesuatu yang tak dapat bergerak di tempat yang beku dan bernenang di kabut pagi. sesuatu yang tidak dapat menembus batu yang padat atau bertahan di pasir yang tertiup angin. ada "sesuatu" yang disimbolkan melalui perlambangan ikan dan akar. Pikiran manusia, tidak akan bergerak di tempat yang beku. karena jika manusia berada dalam titik jenuh dan bosan, ia tidak akan bisa menggali ide-ide dalam pikirannya. tidak bisa menghasilkan sebuah karya. Pun jika ia berada di suatu keadaan yang tidak stabil, pikiran manusia akan mudah goyah. Ia bahkan tidak bisa mengambil sebuah keputusan.
Lalu siapakah yang menentukan kestabilan pikiran? dia lah hati. Akar tidak akan bisa menembus batu yang padat. pikiran tidak akan bisa bergerak dalam hati yang keras. pun tidak akan bisa bertahan di dalam hati yang goyah.

kestabilan pikiran dan hati... kestabilan alam... kestabilan kosmos...

semoga bisa menjawab teka teki ini...

Rabu, 24 Februari 2010

Supernova, Ksatria Putri dan Bintang Jatuh, Membuka Selubung Misteri Alam Raya


Kalau tidak salah ingat, pertama kali membaca Supernova saya masih duduk di bangku kelas dua es em pe. Saya memang tidak begitu memahami konsep-konsep sains yang dijabarkan dalam novel-novel tersebut. Tentang bifurkasi, turbulensi, percobaan 'Kucing schrodinger', atau penelitian Faraday. Tapi entah mengapa saya seperti memahami sesuatu, yang tidak bisa saya ungkapkan kepada orang lain, bahkan diri saya sendiri pun tidak bisa mendefinisikannya secara gamblang. Perasaan, atau mungkin intuisi saya saat itu memang tidak bisa dijelaskan secara runtut seperti metodologi ilmiah. Saya hanya merasa "faham" saja tanpa bisa menjelaskan kefahaman saya kepada orang lain.

saya membaca novel itu untuk kedua kalinya pada pertengahan februari lalu, saat saya sudah berstatus sebagai seorang mahasiswa Sastra Inggris semester akhir. Betapa terkejutnya saya ketika saya membaca dan menemukan sensasi-sensasi yang tidak saya temukan ketika membacanya pertama kali. Ada benang-benang halus yang mengaitkan 'kefahaman'saya di masa lalu dan 'kefahaman'saya di masa sekarang. Dan akhirnya saya bisa mendeskripsikan 'sesuatu' yang tak terdefinisikan di masa lalu. Sesuatu yang selama bertahun-tahun menjadi pertanyaan terbesar saya. Sesuatu yang membuat saya, hampir setengah gila.

Dan Supernova membuat saya merasa "waras" sewaras-warasnya.

Supernova, bukan hanya sekedar sebuah novel. Tetapi dia adalah sebuah virus yang menginfeksi tiap pembacanya. Dia menciptakan benang-benang halus yang mampu menghancurkan tembok penghalang ilmu pengetahuan. Tembok yang mengkotak-kotakkan antara sains, sastra, dan sosial. Seperti hancurnya tembok Berlin yang menyatukan Jerman Timur dan Jerman Barat. Benang-benang itu menghubungkan sains yang melangit dan sastra yang membumi. Menghubungkan Teori relativitas einstaint dengan perselingkuhan seorang wanita karir dan pengusaha muda.

Banyak teman-teman saya yang bilang kalau Supernova itu novel 'berat", susah dimengerti. Tapi bagi saya, Supernova lebih gamblang dari buku teori filsafat manapun. Supernova mengungkap rahasia-rahasia alam raya yang selama ini masih tertutup kabut. Pernah suatu kali saya berpikir, bahwa konsep "waktu" di dunia ini sebenarnya tidak ada. Jam, menit, detik hanya lah sebuah konsensus. Kesepakatan international saja. Masa lalu dan masa depan itu tidak ada. hanya sebuah ilusi. yang ada hanya lah 'saat ini.' kalau saya mendiskusikannya dengan orang lain, mungkin saya akan dianggap 'gila'. Seseorang yang tidak punya latar belakang pendidikan sains, bahkan nilai fisikanya tidak pernah beranjak dari angka enam berani menentang konsensus international yang di "amini' oleh semua orang di dunia ini.

Tapi, Supernova seperti teman curhat yang tepat bagi saya. Bahkan 'kegilaan' saya selama ini dibenarkan olehnya.

Selama ini, saya merasa punya keterikatan batin dengan seseorang. Ketika dia sakit, saya ikut merasakan sakitnya. Saya tahu kapan dia sakit tanpa ada yang memberitahu. Saya tahu kapan dia punya masalah tanpa dia menceritakannya dulu pada saya. Dia mengerti apa yang saya pikirkan, dan saya pun mengerti apa yang dia pikirkan. Dia bukan orang tua saya, saudara saya, atau bahkan kekasih saya. dia hanya seorang 'teman.'
Mulanya saya berpikir, adakah penjelasan ilmiah mengenai hal ini? Apakah dua orang yang berjarak ribuan kilometer bisa memikirkan hal yang sama?
dan ternyata Supernova menjawab pertanyaan saya. Percobaan Faraday membuktikan secara ilmiah fenomena yang saya alami.

Yang terakhir, Supernova menjawab sebuah tanda tanya besar yang tidak hanya ada di dalam benak saya, tetapi juga seluruh makhluk di dunia ini. Anjing, kucing, rumput, lebah, lalat, amoeba, parasit...... tentang keteraturan dan ketidakteraturan, tentang kepastian dan ketidak pastian, tentang Kekuatan apa yang menyebabkan gravitasi itu menjatuhkan buah apel dari pohonnya. Tentang Siapa yang menentukan apakah koin yang kita lemparkan ke udara akan mendarat dalam bentuk gambar rumah ataukah gambar burung cendrawasih.

Ternyata, roman kehidupan yang kita alami adalah sebuah fenomena 'sains' yang luar biasa dahsyat! Supernova menelusurinya dengan halus. Membentangkan benang-benang halus, merunutkan segala yang kusut dan carut marut.
Tetapi, seperti relativitas Einstaint, kebenaran di dunia ini tidaklah mutlak. Supernova adalah makhluk. dan dia tidak hakiki. Relativ. Tidak mutlak.

Sesaat setelah menamatkan novel ini, saya merasa 'plong' seperti habis membuang 'hasil ekskresi' di dalam tubuh yang sudah lama menumpuk seperti sampah busuk. Seperti orang jawa yang baru saja mendapat kejelasan dari kebingungan yang dia hadapi, novel ini membuat saya mengucap 'oalah.....ngono to tibake.........'
tetapi selain rasa lega, masih ada satu hal yang menggelitik di pikiran saya. Sebuah pikiran jahat yang egois
. Seandianya saya bisa bertemu mbak Dewi Lestari, saya ingin mengatakan padanya, " Yah.... Mbak Dewi jadi gak surprise lagi dong.... Kok dikasih tahu sih? Biarin aja 'mereka' bertanya-tanya. Biarkan saja 'tanda tanya' besar itu tetap ada di kepala 'mereka'. Biar mereka mencari dan menemukannya sendiri."

*Dee= Dewi Lestari, penulis buku Supernova

Minggu, 07 Februari 2010

Aku, Perahu Kertas dan Sekolah Bintang

Entah kenapa sejak dulu ada keinginan terpendam yang ingin aku wujudkan. Diam-diam aku punya mimpi yang tumbuh perlahan seiring bertambahnya umurku. Tanpa kusadari mimpi itu merasuk hingga ke alam bawah sadarku. Tanpa kutahu kapan bisa mewujudkannya.

Aku ingin sekali mengajar. Memang hal ini tidak terlalu istimewa bagi sebagian orang. Apa enaknya mengajar.Sudah capek, bayarannya masih kalah sama pengusaha. Tapi bagiku mengajar seperti panggilan hati. Dulu, sebelum meninggal, tanteku pernah mendoakan supaya aku berhasil menjadi seorang guru. Dan aku memang memendam keininan untuk mengajar. Tepatnya mengajar anak-anak. Bahkan aku sempat iri pada temanku yang mengajar TK/playgroup selepas SMA, sementara aku melanjutkan kuliah di sebuah Universitas Negeri di kota Malang.

Beberapa bulan yang lalu, aku membeli novel karya dari pengarang favoritku, Dewi Lestari. Judulnya Perahu Kertas. Seperti novel Dee (nama beken dari mbak Dewi Lestari), Supernova, Perahu Kertas benar-benar membuatku tersihir. tidak hanya aku saja, bahkan teman satu kontrakan banyak yang tergila-gila dengan novel ini. Mereka rela mengantri berhari-hari demi membaca novel ini.

Sebenarnya ceritanya sederhana.Tidak terlalu rumit. Tetapi kepiawaian Dee meramunya menjadi sebuah cerita yang menarik patut diacungi jempol. Bahasanya pas. setiap kata mewakili emosi tiap karakternya. Mampu membuat pembacanya menangis sekaligus tertawa dalam setiap bab nya. Novel ini menceritakan tentang perjalan seorang gados bernama Kugy dalam meraih mimpi, cita-cita dan cintanya. Tidak seperti remaja kebanyakan, Kugy ingin menjadi penulis dongeng. Dia suka sekali menulis dongeng, bahkan ia punya banyak serial dongeng yang ia tulis sendiri dengan tulisan tangan. Sadar bahwa menjadi penulis dongeng adaah pilihan sulit untuk masa sekarang yang penuh dengantuntutan materi, untuk sementara ia 'membelokkan" jalannya menjadi penulis cerita remaja yang menjanjikan lebih banyak uang. Nanti, jika ia punya materi yang cukup ia akan kembali menjadi penulis dongeng.

Dalam perjalannan hidupnya, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Keenan. Ia suka melukis, namun keinginannya menjadi peukis ditentang oleh ayahnya. Karena itu ia terpaksa kuliah di jurusan ekonomi untuk memenuhi keinginan ayahnya. Kugy dan Keenan saling menyukai. bahkan saat pertemuan pertama. Kepada Keenan lah Kugy bisa jujur dan mengungkapkan isi jatinya. Begitu juga dengan Keenan. Namun kenyataan berkata lain. Meski saling suka tapi mereka tidak pernah mengingkapkan perasannya. Sampai akhirnya, Kugy berusaha menghindari Keenan karena dia patah hati.

saat hatinya hancur, seseorang menawarinya untuk menjadi relawan di sebuah sekolah gratis untuk anak-anak jalanan. Namanya 'Sakolah Alit' Di situlah akhirnya Kugy mencoba mengobati luka-luka hatinya dengan menjara anak-anak jalanan. Bersama mereka, Kugy menemukan dunianya yang hilang. Ia menjadi penulis ceruta dongeng untuk mereka.

Mungkin, ini hanya perasaan melankolisku yang sedang "bermain", ataukah memang sebuah kebetulan ketika suatu hari ada 'seseorang' yang menawarkan aku untuk menjadi guru sekolah gratis untuk anak-anak SD. Seperti Kugy, aku juga sedang ingin melupakan seseorang. Dia yang membuatku seperti cinderella dua belas jam, lalu menjadi upik abu lagi ketika lonceng berbunyi.
Tanpa pikir panjang, aku menerima tawaran itu. Akhirnya, aku menemukan dunia ku , mimpiku yang telah lama terkubur. Aku mengajar bahasa Inggris unuk anak-anak di 'Sekolah Bintang.'

Baru sekitar empat kali aku bertemu dengan mereka. Mengajarkan mereka menyanyi, berhitung, conversation, dan membantu mereka mengerjakan PR. Rasanya, aku telah jatuh cinta pada mereka. Aku menikmati setiap mereka tersenyum, tertawa, cemberut kalo ngambek. Dan aku selalu merindukan panggilan kesayangan mereka terhadapku " Miss Miza"

Pada akhir cerita, Kugy menemukan cinta sejatinya. Seperti akhir cerita cinderralla. Ia bahagua dengan Keenan. Sedangkan aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Karena aku tidak bisa meramalkan masa depan, dan kejadian apa yang akan menimpaku. Meskipun begitu, aku menikmati perjalanan ini. Sekolah Bintang membuatku belajar tentang arti sebuah keikhlasan. Aku bisa merasakan bgaimana rasa cinta seorang guru kepada muridnya, seorang kakak pada adiknya.

Aku ingin melihat mereka tersenyum bahagia sambil berlarian mengejar mimpi-mimoi mereka.
Dan aku pun berusaha menyembuhkan luka-luka itu........ satu demi-satu....

Minggu, 27 Desember 2009

TL datang ke Blitar



emang sih.... kalo dipikir-pikir postingan ni udah agak "expired". But, untuk mengabadikan sebuah moment yang indah bagiku, tidak ada kata terlambat:)

Kurang lebih tiga minggu yang lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2009, temen-temen dari Teater Langit datang ke rumahku. gak semuanya sih... hanya sekitar delapan orang saja. mereka datang ke rumahku dalam rangka "silaturahim" ( atau mungkin ada maksud lain??) he he he. who knows????

Gak kok temen-temen TL tu baik-baik, ramah-ramah..... apalagi kalo lagi nggojlokin orang. wuih... seru banget. he he he.
kedatangan temen-temen tu bertepatan dengan kepulangan ibuku dari menunaikan ibadah haji. so, rumahku yang ramai jadi semakin meriah dengan kedatangan mereka.

kita semua pergi jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat wisata. seperti makam Bung Karno, Perpustakaan kota, dan candi penataran.
ni.. foto-foto kita yang paling heboh

Rabu, 16 Desember 2009

Untukmu Perempuan....

"Wis to Ndhuk... ra sah sekolah dhuwur-dhuwur. Ujung-ujungnya nanti ya ke dapur juga."Masih terngiang jelas, kata-kata Bulikku di suatu sore saat kami melipat kerdus kue bersama-sama. dengan serta-merta aku menjawab. " Tidak bulik, saya ingin terus belajar sampai ke Amerika.'

Rasanya sudah tidak jamannya lagi kalau kita berpikir persoalan perempuan hanya berujung pada "dapur, pupur, kasur." Memasak, berdandan dan melayani suami. sudah saatnya perempuan memiliki peran di dalam masyarakat. perempuan tidak hanya sebagai objek yang mengikuti arus zaman, tapi ia juga menjadi subjek sebagai penentu arah zaman.

kini, saatnya perempuan dihargai tidak hanya karena cantik atau jelek, tinggi atau pendek, semampai atau tidak. perempuan tidak hanya dihargai karena keelokan tubuhnya saja, tetapi juga intelektualitasnya. kalau dulu orang beranggapan bahwa perasaan perempuan lebih dominan, maka sekarang saatnya intelegensia perempuan diperhitungkan.

memang, secara kodrat perempuan punya kewajiban untuk mengurus suami dan anak. tapi, lebih dari itu, perempuan harus mempunyai keahlian dan ketrampilan tertentu untuk bekal hidupnya. bagaimana perempuan bisa menghidupi dirinya tanpa bergantung pada laki-laki. hal ini bukan berarti menafikan kewajiban laki-laki sebagai pencari nafkah, tetapi lebih menitik beratkan pada kemandirian perempuan.

Ibu Megawati, Corazon Aquino, Indira Gandhi, Khadijah, Aisyah pasti ujung-ujungnya ke dapur juga. tapi lebih dari urusan dapur, mereka mampu memberikan di dalam masyarakat. menjadi subjek dalam menentukan perkembangan zaman.

Sabtu, 12 Desember 2009

perempuan membunuh lelaki

Perempuan membunuh lelaki
tidak dengan belati
tapi dengan seulas senyum
di pagi hari
"selamat pagi"

Senin, 07 Desember 2009

Inasyscon 2009, my first international event



Kemarin, baru saja fakultas tempatku kuliah dan menuntut ilmu, Fakultas Ilmu Budaya, mengadakan sebuah even berskala internasional. Internasional Systemic Society Conference, adalah konferensi internasional pertama di FIB. Aku, sebagai salah satu dari sekian ratus mahasiswa ikut berpartisispasi dalam kepanitiaanya. Aku dan 19 orang mahasiswa lainnya telah lolos seleksi untuk menjadi panitia. sebelumnya, kami di interview dulu oleh dosen sampai akhirnya kami terpilih untuk ikut dalam kepanitiaan.

terus terang saja, sebagai mahasiswa biasa yang tidak banyak mempunyai kelebihan (IPK pas-pasan) , tentu saja aku bangga ikut serta dalam even ini. Konferensi yang berlangsung pada tanggal 5-7 Desember ini mendatangkan keynote speakers dari luar negeri. salah satunya adalah Prof MAK Halliday dan Prof Ruqaiya Hassan. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mereka yang teori-teorinya ku pelajari di bangku kuliah.

Dalam konferensi ini, aku melihat dengan kedua mataku, merasakan dengan hatiku, kehidupan para akademisi. dimana pra profesor dan jenius-jenius yang lainnya bertemu. aku mendengar apa yang mereka bicarakan, gurauan, sorot mata, dan gesture mereka. Dunia akademisi yang dipenuhi dengan penelitian, seminar, disertasi, yang tampak bagiku sebagai sebuah menara gading yang tak tersentuh rakyat biasa.

Jujur, aku begitu menikmatinya. Menikmati kehidupan di dalam menara gading. tapi, apakah aku bisa diam saja dan membiarkan masyarakat di sekitarku masih dalam kemiskinan dan kesengsaraan. karena itulah, aku berpikir untuk tidak hanya menjadi akademisi. tapi juga menjadi praktisi. aku ingin terjun ke masyarakat dan melakukan perbaikan-perbaikan di dalamnya. aku ingin mengabdi. aku ingin diriku bermanfaat. daripada hanya belajar teori muluk-muluk yang tak bisa menyembuhkan kelaparan dan kemiskinan mereka.

bukan berarti aku sentimen dengan orang-orang akademisi. aku hanya ingin semuanya balance. dimana terjadi keseimbangan antara belajar teori dan bagaimana mempraktikakannya. aku tidak hanya belajar rumus dan teori sastra tapi bagaimana dekat dengan karya sastra itu sendiri. dekat kepada masyarakatnya.....

Kamis, 03 Desember 2009

mengapa

mengapa...
mengapa harus seorang wanita yang mengalami hal ini
cinta sepotong kuku itu masih terlekat di hati
tumbuh dan terus tumbuh tanpa henti

kelewat sentimentil memang
berulangkali hatinya terdera
namun ia simpan luka itu dan menyematkannya di dada
seperti kuntum mawar yang tak habis-habis harumnya

sampai kapan ia akan terus menanti
dalam senyuman yang tak pasti
akankah penantian itu selamanya
dan rasa itu tak kan menepi
meski kapal telah berlabuh
.......
di dermaga yang teduh

Sabtu, 28 November 2009

belajar dari sebuah pengorbanan

"Ibrahim dengan tulus mempersembahkan putra tercintanya, Ismail kepada Allah SWT. Tanpa tendensi, tanpa pretensi

Sungguh, Ibrahim telah memberikan teladan kepada anank cucunya tentang arti sebuah pengorbanan. Betapa skita sesungguhnya tidak memiliki apa-apa. Dia lah pemilik segalanya. Suatu saat ia akan mengambil apa-apa yang telah dititipkannya kepada kita. termask harta dan barang berharga.

Aku, entah keturunan Ibrahim yang keberapa juta, kali ini, harus belajar dari sebuah pengorbanan. tepat di malam idul adha, aku kehilangan milikku yang berharga. sebuah Hp sonyericson bertipe R 306. harganya sih tidak begiru mahal, tapi di hp tersebut banyak nomor penting yang kusimpan. Dan juga sms-sms penting yang sangat berkesan (ehm..)

singkatnya hp itu terjatuh di depan UIN dan ditemukan oleh seseorang yang berinisial A. Saat itu, aku yang sedang menuju arjosari balik lagi ke dinoyo untuk mengambil hp itu yang katanya sedang di bawa orang berinisial A tersebut. orang itu minta imbalan 150 ribu. dan itu sudah kusanggupi. tapi ternyata, orang tersebut mengingkari janhinya. dia tidak datang di tempat yang telah disepakati. alamatnya pun fiktif.

malam itu juga aku meluncur ke markas teater langit. aku minta pertolongan pada mbah jiwo untuk memberikan solusi apa yang harus aku lakukan. beliau meminjamkan hp nya untuk menelepon no ku lagi. tapi ternyata hasilnya nihil

akhirnya ketika pulang ke kontrakan aku mencoba meneleponnya lagi dari hp temanku. ternyata diangkat. dia bilang dia mau mengembalikan hp ku asalkan aku mau diajak menginap dihotel atau membayar 300 ribu! Gila! benar-benar gila!dia pikir harga diriku cuma dihargai 300 ribu??? apa memang dunia ini sudah mendekati hari kiamat? Apa sudah tidak ada lagio ketulusan dan kejujuran di dunia ini?

esok harinya aku minta tolong anak-anak teater langot untuk membantuku menghadapi orang itu. mereka udah datang keroyokan. tapi ternyata lagi-lagi. orang itu tak tepat janji. dan sampai sekarang hape ku masih ada di tangannya.

dari kejadian ini aku belajar, bahwa sekuat apa pun kita berusaha kalau Allah tidak menghendaki maka tiodak akan mendapatkannya. mungkin hp it bukan hak ku lagi. ada orang0rang yang enih berhak mendapatkannya. semoga Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. amin....

Sabtu, 21 November 2009

belajar dari Sajak Sebatang Lisong ( Rendra )

"Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka"

Sebuah penggalan sajak yang dibawakan Rendra dengan lantang benar-benar membuat hatiku bergetar dan tersadar dari tidur panjangku di masa lalu. Aku terbangun setengah melirik, menyingkirkan lipatan selimut tebal yang membungkus tubuhku. kulihat jam dinding yang berdetak. Baru saja kusdarai bahwa aku tertidur begitu lama.

Rupanya tidak hanya tubuhku saja yang tertidur tapi kuga jiwa dan pikiranku. selama ini aku melarikan diri dari kehidupan nyata. dimana lebih dari dua ratus juta jiwa menengadahkan tangan dengan mulut menganga. selama ini aku tinggal di menara gading berlapis emas dan menelan mentah-mentah teori-teori yang bu*****t lalu kumuntahkan lagi. Buku-buku hanya bertumpuk di meja lalu berakhir di tangan tukang loak seharga seribu per kilonya.

"Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata."

Rendra benar.... bahwa kita mesti turun ke jalan di bis-bis kota, di jembatan-jembatan, bersua pengemis-pengemis dan petani-petani yang kehilangan sawahnya. Untuk apa kita sekolah sekian tahun lamanya jika hanya berakhir di gedung-gedung bertingkat tak berjendela yang menafikan keadaan di luarnya.
Kita adalah masyarakat, bagian dari masyarakat, dan milik masyarakat.

Perlahan aku melihat bayangan kemunafikan yang selama ini menyelimuti tubuhku. Aku, mahasiswa sastra yang tak bisa melakukan apa-apa dengan teori sastranya. Lalu apa artinya climax, dan raising action, John Steinback, Nida, Chomsky yang selama ini dijejalkan ke telinga dan mataku.

Apa artinya pentas-pentas teater yang kukerjakan jika pada akhirnya tidak merubah keadaan.

"Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan."

Dan sekali lagi Rendra benar. Ilmuwan, akademasi tidak layak melacurkan ilmunya. melarikan diri dari kehidupan nyata, dan bersembunyi di puncak menara.

Malang, 22 November 2009

dalam pencarian yang hilang arah....

Senin, 26 Oktober 2009

my essay

People of Paradox

America is considered to be a great country because of its power. America has priority in the United Nations to approve its policies. Dollar in America can also influence the changing value of money in the world. Despite its power, America does not impress me. I dislike one aspect of American culture. I think America and its people are paradox.

I say “people of paradox” because I know some inconsistencies between their policies, their human rights, and their actions. Looking back through American history, Thomas Paine, an intellectual and the most persuasive rhetorician during the fight for American Independence, wrote propaganda to separate from England. He said,” We have boasted the protection of Great Britain without considering that her motive was interest not attachment; and that she did not protect us from our enemies and our account, from those who had no quarrel with us on any other account, and who always be our enemies on the same account.” (Paine, Thomas, Common Sense, 1776). This means that he influenced the separation of Americans from British. America did not want to be conquered again.

But why in World War I and World War II , America build Triple Alliance with England in the fight against Russia, Italy, Germany, and Japan? How could they have the same enemies and be allies previously if they wanted their independence? Those are some questions in my mind.this shows inconsistencies of their policies.

Once more, in America’s Declaration of Independence says that , “ All men are created equal; that they are endowed by their Creator with inherent and inalienable right....” I consider this to be paradoxical too. I know how white people in America treated African-American. They treated them badly, cruelly. They employed them as slaves and whipped them when they made mistakes. Some masters also rapped the women and did not recognize their son. and daughter. They did that to breed cattle, in other words, to have cheap slaves.

Then, what happened in Iraq? Why did America fight against Iraq? There is not enough reason to fight against Iraq. Also how could they want to attack Iran? There is not enough evidence that Iran has nuclear energy to destroy the world. How about Afghanistan? They also attacked Muslims in Afghanistan. So how can American says that they respect human rights even though their actions are to the contrary?

In conclusion, I want to say that though America is considered to be a super power country in the world, they still have inconsistencies between their policies and their actions. Amerca should not participate too much in organizing other countries. They should respect human rights not only in their policies, but also in their action.