Jumat, 12 Juni 2009

Selamat Ulang Tahun

seperti daun cemara yang selalu hijau
kau ingin seribu nyawa
bahkan reinkarnasi,
kalau perlu

aku tertawa
kehidupan bukanlah keabadian
begitu juga kematian
ada saat-saat yang harus kita bagi
dalam belahan waktu yang memburu
seiring detik jarum jam
dan aliran darah di bilik jantungmu

kue cherry ini untukmu
senyuman manis sahabat kuoles diatasnya
dari bulir air mata kubuat adonannya
meski hanya sebuah sajak sederhana
tetapi bukalah matamu, hai putri salju

ada sepucuk rindu di meja kerjamu

"Selamat Ulang Tahun"

Kamis, 21 Mei 2009

well educated vs unwelleducated

ada dua fenomena yang saling bertolak belakang di dalam hidup kita. mau tidak mau kita harus menjalani salah satunya. jalan hidup yang kita pilih menentukan kepribadian dan kualitas diri kita. ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menikmati dunia pendidikan dengan bersekolah hingga jenjang s1, s2, bahkan s3, apa kah kita telah mendapatkan sesuatu yang lebih, dibandingkan orang-orang yang tidak mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. well educated vs unwelleducated. manakah yang lebih baik? manakah yang cocok menjadi pilihan hidup kita?

edukasi, pendidikan, dunia akademik mengantarkan kita ke dalam dunia membaca, dunia buku, dunia kognitif yang berisi tentang pengetahuan-pengetahuan. baik ilmu pengetahuan alam, yang bersifat exact maupun ilmu pengetahuan sosial. mula dari sekolah dasar hingga menjadi mahasiswa kitaberlaku sebagai murid yang hampir tiap hari selalu menghadiri kelas, mendengarkan kuliah dosen atau pengajaran dari guru. dijejali dengan materi-materi atau diktat2, bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kualitas intelektual yang cenderung baik. jika sepintas kita lihat memang hal -hal tersebut adalah hal yang biasa kita lakukan. tapi jika kita tinjau lebih lanjut, hal-hal tersebut harusnya menjadi sesuatu yang luar biasa jika menghasilkan perubahan pola pikir pada individu yang menjalaninya.

perubahan pola pikir berarti perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi paham, dari paham menjadi "ngerti". sebagai contoh ketika kita belajar tentang pertentangan atau segregasi ras di Amerika, maka kita akan menemukan karya-karya orang-orang Afro America (orang2 Afrika di Amerika) seperti Langston Hughes dengan I, Too, Sing Amerika nya, Alice Walker dengan The color Purple nya, Toni Morison dengan Sula nya, yang menggambarkan perlakuan tidak adil orang kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika. Maka dari materi tersebut apa yang bisa kita dapatkan. apkah kita hanya menghafalkan saja dan tidak memahami maknanya. dari materi tersebut seharusnya kita dapat mengambil pelajaran yang berharga. dari situ kita bisa belajar bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain yang berbeda ras ataupun warna kulit dengan kita. kita juga bisa mengambil hikmah bahwa senua orang memiliki hak dan derajat yang sama di dalam kehidupan. "every men were born to be equal."

sementara itu dunia non edukasi, bahkan mungkin dunia "jalanan", mengantarkan orang ubtuk berkecimpung di dunia praktisi. mereka terbiasa bersentuhan langsung dengan masyarakat umum. mereka lebih mengenal rrealita karena mengalaminya langsung. seperti misalnya pedagang di pasar. mereka mendapatkan pengetahuan dari pengalaman hidup sehari-hari. cara mereka berbisnis bahkan berdasarkan naluri. mereka tidak membaca buku tentang bisnis atau seminar enterpreunership. mereka tidak mengenal apa itu silabus dan diktat-diktat kuliah. orang yang seperti ini, apakah akan mengalami perubahan pola pikir?

Jika orang yang well educated mengalami perubahan pola pikir dari membaca karya-karya Jhon Steinback, Einstain, John Nash Jr, dan masih banyak lagi yang lainnya, maka orang-orang yang non well educated mengalami perubahan tersebut dari "gesekan" dengan kehidupan sehari-hari. jika mahasiswa bisa berpikir tentang bagaimana menghargai orang lain dari karya Toni Morrison, maka pedagang di psar bisa mengerti tentang bagaimana menghargai orang lain melalui interaksi sosialnya dengan para pedagang lain.

pada intinya, orang-orang terpelajar dan terpelajar harusnya sama-sama mendapatkan pencerahan dari apa yang telah mereka jalani sehari-hari. belajar tentang kehidupan, itu lah yang penting. memperolah kebiojaksanaan. itulah tujuan yang sebenarnya. wisdom adalah jeruji yang menguatkan roda agar ia terus berputar, tanpa terlepas. ia adalah roda kehidupan kita.
maka, tidak perlu mempertentangkan kelas mana yang lebih baik. well educated ataukah unwell educated. yang terpenting adalah bisa memaknai apa yang telah kita lakukan, memahaminya, dan memperoleh kebijaksanan, dan membwa perubahan dalam diri kita, orang lain, hingga masyarakat luas menuju yang lebih baik.

Rabu, 13 Mei 2009

aluamah

Cinta Mu tak henti-hentinya
mengalir pada cangkir kehidupanku
tapi waktu demi waktu
kutuangkan dosa
hingga tumpah segala

lalu aku tersedu
diatas sajadah kelabu
di bawah langit biru
memohon kembali Kau
guyurkan cinta Mu
seperti hujan deras menumbuhkan
pohon layu

Engkau tersenyum dan memelukku
dadaku sesak penuh rindu
saat itu bunga rumput bertasbih
penuh haru

setahun berlalu...

CintaMu terus saja mengalir
di cangkir kehidupanku
aku lupa pada rindu,syahdu, dan haru

dan kembali kutuangkan dosa
dosa
hingga tumpah segala

aluamah

cintaMu tak henti-hentinya
mengali

Jumat, 13 Februari 2009

Agropolitan "Mak Ti", kreativitas masakan "ndeso" yang populer



Siapa bilang makanan "ndeso" tidak populer? justru ketika anda pergi ke kota Blitar, anda akan menemukan pesona masakan "ndeso" di sebuah warung makan sederhana yang jauh dari keramaian kota. Desa Nglaos (begitu orang-orang menyebutnya) menjadi semakin terkenal dengan kehadiran Warung Makan Mak Ti. Bahkan mereka mempopulerkannya dengan memasang nama "Agropolitan Mak Ti" di papan penunjuk jalan.

Masakan yang dijual di warung Mak Ti memang bukan sekelas hamburger,pizza, atau steak. namun, sayur "lompong", "godong tela", "kulupan", "lele jendhil", "ayam goreng", seperti memiliki kekuatan "magnetis" yang membuat orang-orang ingin kesana. Meskipun tempatnya sederhana, (Mak Ti masih menggunakan "luweng" untuk memasak), para pegawai kantor, pejabat-pejabat, bahkan yang dari luar kota sering datang ke sana.

Mungkin itu karena "keistimewaan" yang Mak Ti tawarkan pada para pembeli. pembeli bebas memilih masakan apa yang disukainya. Mak Ti hanya mematok harga "lima ribu rupiah" untuk makan sepuasnya. Nambah nasi boleh, lauknya dobel juga boleh. pokoke limang ewu sak warege.

keramahaan dan kebaikan hati Mak Ti juga menjadi daya tarik tersendiri. saya punya pengalaman menarik tentang hal ini. Ibu saya pernah diberikan kortingan harga saat membeli di sana. " wis sing iki ra sah mbayar...."

ketika kedua kalinya saya makan di sana, saya melihat banyak perubahan di warung Mak Ti. kalau dulu "luweng" nya jadi satu dengan tempat makan, sekarang jadi terpisah. tempatnya juga lebih lebar. dan yang membuat saya tertarik adalah iklan-iklan yang terpampang di dinding warung Mak Ti. beberapa toko dan perusahaan terkenal mau memasang iklan di warung Mak Ti. seperti toko Hawaii dan salah satu produk kendaraan bermotor (saya lupa namanya).

saya pikir ini adalah sebuah krativitas yang patut diacungi jempol. Mak Ti berhasil mempopulerkan "masakan ndeso" dengan konsep yang berbeda. dengan suasana "kampung" yang asri membuat orang kangen dan ingin kembali ke sana.

Pemerintah daerah harusnya memberikan perhatian pada usaha ini. karena konsep Agropolitan Mak Ti berpotensi menjadi kuliner khas Kota Blitar. barangkali saja nanti bisa terkenal seperti angkringan di Yogya.

Selasa, 03 Februari 2009

"firasat"

bukan isyarat kata-kata
karena alam meniupkannya begitu saja
apakah kicau burung itu adalah dirimu yang menjelma

hanya soal waktu
yang akan menjawabnya

haruskah aku mengikhlaskannya
tanpa terbersit sebuah tanya

sungguh, aku ingin bicara padamu
sekali saja
saat bulan berwarna biru
dan hatiku abu-abu

apakah kebenaran itu milikku saja?

kau biarkan aku tersiksa
dalam ambigu mimpi dan nyata

firasat itu ada.


blitar, 3 januari 2009

Jumat, 23 Januari 2009

Diklat Teater Lingkar Part II

Pagi. langit biru. kicau burung. dinginnya udara.
saat matahari belum menyapa, aku menderas ayat-ayat cintaNya di balik tenda.

betapa alam adalah bukti nyata keindahan cinta Nya.


" mengenal diri sendiri saja tidak bisa, mau berlagak sok mengenal Tuhan." begitulah kira-kira yang diteriakkan salah seorang senior teater lingkar.

saat itu aku disuruh berendam di sungai. tak bisa kubayangkan betapa dinginnya. ditambah dengan instruksi-instruksi yang diteriakkan kakak seniorku.

aku merasakan aliran air yang menyentuh tanganku, kakiku dan seluruh tubuhku. dengan mata terpejam aku meraba halusnya pasir-pasir sungai hingga kasarnya bebatuan.

olah rasa, membuat jiwa kita lebih peka. aku meraba kulitku yang kedinginan. aku mencoba mengenali sebentuk tubuh yang selama ini menjadi tempat ruhku bersarang.

kakak seniorku semakin keras berteriak. bahkan dia mendalilkan kata-kata Imam Ghozali. " Kenali dirimu, baru kau mengenal Tuhanmu." kemudian dia menyuruh aku dan peserta diklat lainnya menggali pengalaman-pengalaman puitik yang pernah singgah di dalam hidup kami.

aku perlahan memanggil kembali memoriku yang telah kupendam. dengan mata terpejam, aku berusaha mengingat hal-hal lucu sampai hal-hal yang paling menyakitkan. aku tidak tahu bagaimana ekspresiku saat itu. yang pasti aku mengungkapkan perasaan marah, sedih, dan bahagiaku dan itu tidak membuatku lega. tapi merasakan sakit yang tak terkira.

kemudian, kakak senior terus saja memberikan berbagai instruksi. membayangkan suasana pantai, padang pasir, hingga kutub utara. padahal aku sudah mati rasa. tubuhku sudah tidak merasakan dinginnya air lagi. tapi tentu saja, aku ingin segera naik dan menghangatkan diri.

" Sekarang, bayangkan suasana tidur di kost masing-masing!" begitu teriaknya.
Tak ayal lagi, aku merebahkan seluruh tubuhku di sungai. sekujur tubuhku basah kuyup. aku tidur terlentang seakan tidur di kost an ku sendiri.

betapa semua itu membuatku peka. lebih peka malah. hingga aku tidak bisa melupakan apa yang terjadi padaku saat itu. setiap detik, setiap intonasi instruksi yang diberikan kepadaku. padahal dia menyuruh kami untuk melupakan semua yang terjadi hari itu.

tapi, tampaknya aku tak kan bisa. tak kan pernah bisa.


di akhir acara, kami dikukuhkan sebagai anggota resmi Teater Lingkar. wajah kami dicoreng-moreng dengan cat dan lumpur.

malu ? rasanya itu tidak perlu. bukankah ikut Teater berarti memutuskan satu "urat malu" di leher. :)

dalam perjalanan pulang, aku melihat dan "merasakan" aroma kelelahan menghiasi wajah teman-temanku. tidak hanya pesertanya saja, tetapi juga panitianya.

tak lama kemudian aku tertidur pulas, di dalam truk yang membawa kami menuju kampus tercinta. dan bukan berati "perjalanan sudah usai", tapi dari sinilah kami memulai..........